Berhari-hari saya menyiapkan draf proposal disertasi, mematangkan argumen seputar pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing, NLP) dan asesmen formatif, serta mengantisipasi pertanyaan teknis. Saya membayangkan hal-hal itulah yang akan dibahas dalam wawancara S3 Ilmu Pendidikan dengan fokus Teknologi Pendidikan.
Realitanya, panelis sama sekali tidak menyentuh isi proposal. Wawancara justru lebih banyak menguji kesiapan mental, komitmen, dan cara saya memandang realitas lapangan.
Publikasi: antara target dan realita
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika penguji menanyakan pemahaman saya tentang target minimal publikasi untuk jalur riset (by research). Saya menjawab, “Satu.” Dalam wawancara tersebut, penguji menjelaskan bahwa syarat minimalnya adalah lima publikasi, dengan kombinasi jurnal terindeks Scopus dan terakreditasi Sinta.
Jawaban itu menjadi pengingat konkret bahwa saya perlu memahami tuntutan program dengan lebih cermat. Ritme membaca, meneliti, dan menulis harus dibangun sejak hari pertama.
Menyadari celah kompetensi lintas disiplin
Ketika ditanya tentang kelemahan terbesar saya dalam mengikuti program ini, saya memilih menjawab secara terbuka. Latar belakang S1 dan S2 saya berada di ranah teknologi dan sistem informasi, bukan pendidikan. Artinya, saya harus bekerja lebih keras untuk memahami teori pedagogi dan membaca penelitian pendidikan yang menjadi landasan riset saya.
Bagi saya, mengakui celah kompetensi merupakan langkah awal untuk menentukan apa yang perlu dipelajari. Penguasaan teknologi tetap harus disertai pemahaman tentang persoalan pendidikan yang ingin dijawab.
Realitas industri: mengapa memilih jalur akademik?
Pertanyaan pamungkasnya adalah: mengapa ingin menjadi dosen, bukan tetap berfokus pada industri teknologi?
Sebagai praktisi yang sehari-hari membangun infrastruktur perangkat lunak, saya menjawab dari pertimbangan karier yang cukup pragmatis. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) membuat saya meninjau kembali arah karier di bidang software engineering. Dalam pandangan saya, persaingan industri yang ketat dan perubahan tuntutan keahlian menjadi alasan untuk memikirkan pilihan jangka panjang dengan lebih serius.
Menjadi dosen merupakan salah satu arah yang saya pertimbangkan untuk mengabdi melalui pendidikan dan riset. Latar belakang keluarga juga menjadi pertimbangan: orang tua saya adalah akademisi dan profesor, sehingga dunia akademik cukup dekat dengan kehidupan saya.
Pada akhirnya, wawancara ini mengingatkan saya bahwa kesiapan menempuh studi doktoral mencakup lebih dari kematangan proposal. Ada ritme riset, tuntutan publikasi, dan komitmen waktu yang perlu dipahami sejak awal. Today I learned: menjawab dengan jujur tentang motivasi dan keterbatasan diri juga merupakan bagian dari kesiapan menghadapi proses tersebut.